Website Iklan Tayang Selamanya
Promo spesial hari ini posting iklan di situs web Iklan Indonesia murah sekali
setidaknya satu iklan Anda harus ada di Iklan Indonesia unikbaca.com ini, agar pengunjung
atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda, posting iklan di Iklan Indonesia murah
🎁 Hari ini sebar iklan massal murah ke 1.050 web! DISKON!

Tampilkan postingan dengan label Tradisi Jawa. Tampilkan semua postingan
data:post.title

TRADISI PAGER DESO JAJAH PROJO

TRADISI BERSIH DESA / PAGER DESO KANTHI NJAJAH PROJO UDHO ini adalah cerita lama yang mana tradisi seperti ini saat ini sudah tiada lagi. Yang namanya tradisi tidak selamanya harus di uri-uri / dijaga agar lestari. Tradisi yang baik dan yang masih sesuai dengan perkembangan keyakinan dan peradaban di suatu masyarakat sudah pasti akan lestari, namun tradisi yang dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan peradaban dan keyakinan pada suatu masyarakat dengan sendirinya di tinggalkan dan pastinya tidak akan bertahan, salah satu Tradisi di masyarakat jawa terutama yang pasti pernah ada dan saya ketahui ada di lingkungan Saya dahulu kala yang kini telah punah itu adalah Tradisi Pager Deso Atau Bersih Desa Kanti Njajah Projo Tanpo Busono Alias Udho.
TRADISI MALAM SURO JAJAH PROJO UDHO
Walaupun Tradisi Pager Deso Kanti Njajah Projo Tanpo Busono ini Sudah tidak Sesuai lagi dengan Perkembangan Zaman dan Keyakinan dan sepertinya kini telah punah, (terutama di lingkungan sekitar saya  lho ya) mungkin tidak ada salah Saya Tulis di sini untuk mengenang tradisi masa lalu itu yang mungkin generasi yang akan datang tidak tahu bahwa di tempat tinggalnya dahulu pernah ada tradisi semacam ini.

Apa Itu Tradisi Pager Deso Njajah Projo Tanpo Busono:
Zaman simbah-simbah/zaman nenek Kakek dahulu yang masih lekat dengan adat Tradisi Kejawen di malam-malam tertentu di bulan Suro yang biasanya adalah hari di mana malam itu di yakini Masyarakat setempat sebagai hari lahirnya Desa/Kampung ataupun Dusun maka Saat itu sering kali malam harinya di Sakralkan Penduduk Desa itu, Pada malam itu di Selengarakanlah Acara Bersih desa / Pager Deso. Entah apa nama asli Tradisi ini sebenarnya, dan Saya beri judul Njajah Projo Udho karena kegiatan itulah bagian dari ritual Bersih/Pager Deso Itu.

Banyak sekali kegiatan saat malam di mana diyakini hari itu hari lahir sebuah Kampung / Dusun / Desa, ada selamatan/Kondangan alias Kenduen, para penduduk Kampung/dusun/desa itu berkumpul Tirakatan dan Puncaknya pada Tengah malam Para Tetua Desa melakukan Ritual Njajah Projo Udho yaitu Orang orang yang di Tuakan di desa itu melakukan Ritual  mengelilingi desa dengan Tanpa busana yang melekat di badanya. Selama ritual ini mereka Pantang Bicara dan Tak akan Menyapa bila mana dalam perjalannanya berjumpa siapa saja. 

Ritual Pager Deso alias Bersih Desa ini dilakukan dengan tujuan dan diyakini pada masa itu bisa  Membentengi dari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi di desa itu, Tolak balak dan hal-hal semacam itu.

Ritual ini masih di jalani Orang-orang Zaman dahulu saat Keadaan jalan di desa Masih sepi Gelap gulita belum ada listrik Masuk Desa sehingga suasana tengah malam itu sangat sepi jauh dari kesibukan manusia saat itu. Beda dengan Zaman sekarang di mana Jalan-jalan Terang benderang setelah adanya Listrik dan setiap saat kendaraan selalu berlalaulalang.

Mulai di tingalkannya Ritual ini adalah saat Listrik Mulai Masuk Desa dan semakin banyaknya kendaraan yang berlalulang di jalanan, walaupun tengah malam kini jalanan tak pernah sepi. Kejadian yang membuat tradisi ini tidak lagi di lakukan adalah  saat Para Sesepuh atau Tetua alias Orang-orang yang di tuakan di desa itu melakukan ritual Jajah Projo atau Keliling Desa ada Kendaraan yang melintas dan cahaya lampunya menerpa Mereka yang tanpa sehelai benangpun menutupi Tubuhnya, Entah apa yang ada pada perasaan mereka namun dalam Ritual itu mereka dilarang Berbicara Apalagi Menyapa, jadi mereka hanya diam saja.

Dengan kejadian seperti itu Kegiatan Semacam ini mulailah di tinggalkan Seiring juga dengan Perkembangan Keyakinan di mana Kegiatan Semacam itu Dirasa tidak sesuai lagi dengan Perkembangan Keyakinan Yang terjadi di masyarakat kampung itu. Kini Acara Pager Deso atau Bersih Desa ini hanya bagian-bagian yang dirasa masih sesuai dengan Zaman dan Keyakinan saja yang dilakukan, diantaranya masyarakat berkumpul, Syukuran, Tirakatan di isi dengan Pengajian dan kegiatan kegiatan semacamnya.

Itu satu bagian cerita Di Bulan suro yang Terjadi di desa Saya dan saya Rasa itu juga terjadi di desa-desa lainya di se antero tanah jawa Pada masa dahulu. Namun hal itu telah lama berlalu dan mungkin anak anak Zaman sekarang tidak mengetahui bahwa di tempatnya pernah ada dan hidup Tradisi semacam itu dan Tulisan ini Saya tulis tidak ada maksud apa-apa selain karena saya pingin cerita namun sepertinya kacau jalan ceritanya ya?

data:post.title

PUASA TRADISI ADAT KEBIASAN ORANG JAWA

Puasa Tradisi Adat Kebiasaan Orang Jawa zaman sekarang ini sepertinya sudah jarang sekali ada yang menjalani, mengingat perkembangan zaman dan keyakinan yang terjadi di masyarakat saat ini. Berdasarkan apa yang Penulis saksikan tradisi masyarakat di sekitar Saya pastinya, Puas ala orang jawa ini masih banyak yang melakukan adalah di era sembilan puluhan ke bawah. Setelah era sembilanpuluh semakin jarang orang yang masih melaksanakan puas gaya tradisi orang jawa ini, jika ada hanya satu dua saja 

PUASA TRADISI ADAT KEBIASAN ORANG JAWA

Puasa ala kebiasaan Tradisi Jawa ini tidak sebagaimana Puasa Umat Islam pada umumnya dimana puasa Kaum Muslimin di lakukan dengan tidak makan, minum dan bersegama mulai dari fajar sidiq sampai terbenam matahari dan berbuka setelahnya, Baik Puasa wajib maupun puasa Sunah sama syareat atau tata caranya melaksanakannya, sedangkan puasa Tradisi orang Jawa tidak seperti itu, ada beberapa macam Puasa dalam Tradisi Orang Jawa, beda Nama Puasa Beda Pula Tata cara dalam Melaksanakannya.

Dari Bermacam-macam Puasa dalam Tradisi Orang jawa yang pernah Saya lihat dan Saya Ketahui diantaranya: POSO MUTIH, POSO NGRWOT, POSO NGEBLENG

Mungkin masih banyak lagi macam nama puasa ala Tradisi Orang Jawa yang lainnya namun yang penulis ketahui dan pernah ada orang di sekitar Saya yng melakukannya ya tiga macam Puasa itu, dan dari ketiga puasa itu tidak sama tata cara melaksanakannya. Entah atas dasar apa tata cara puasa itu, sepertinya itu adalah masih pengaruh kebudayaan sebelum masuknya islam ke tanah Jawa, karena sama sekali berbeda tata cara puasa ala Tradisi Jawa ini dengan Syareat puasa kaum Muslimin.

Saya kira Puasa ini adaptasi dari budaya Hindu Budha yang ada sebelum Islam Masuk. Setelah Islam Masuk di Tanah Jawa syiar yang di lakukan Sunan Kalijaga menggunakan media tradsi yang telah ada dan berkembang sebelumnya, Satu bagian contoh Puasa Mutih. Dalam syariat Islam ada juga Sunah Puasa Putih yaitu Berpuasa pada Hari-hari Putih atau pada tanggal 13, 14 dan 15 Puasa Pertengahan Bulan saat Malam-malam pada waktu itu Putih terang benderang oleh sinarnya Rembulan dan masih banyak lagi tradisi jawa yang dijadikan Sunan Kalijaga Sebagai Media Dakwahnya. sebagai contoh:
Lagu Lir Ilir Tndure Wi Sumilir 
Sanepan; Turuo Neng Sorlongan Bantale Merang
dan lain semacamnya. 

Kembali ke Tradisi Puas Adat Jawa Yang sangat berbeda Tata cara Melaksanakannya dengan Syarat Puasa Pada umumnya. 

POSO MUTIH
Poso/Puasa Mutih ini dilakukan bukan menahan/tidak makan dan minum dari Fajar Sampai senja melainkan untuk hal makan dan minum bisa dilakukan kapan saja, akan tetapi yang boleh dimakan hanya nasi putih dan air Putih atau Banyu Towo alas air tawar saja. Lama waktu puasa puas mutih ini tergantung dari niat maksud dan tujuannya. Menurut yang pernah melaksanakannya Poso/Puasa Mutih ini biarpun bisa makan kapan saja namun lebih berat menjalaninya dibandingkan puasa biasa.

POSO NGROWOT  
Poso/Puasa Ngrowot adalah Puasa yang di lakukan dengan memakan makanan yang dalam bahas jawa namanya Krowotan. Makanan Krowotan adalah makanan dari segala Jenis umbi-umbian. Sama seperti Poso/Puasa Mutih Poso/Puasa Ngrowot Boleh makan kapan saja akan tetapi yang di makan hanya dari jenis Rowotan alias Umbi-umbian saja, Seperti Ubi, Uwi, Telo, Pohong dan semacamnya, tidak boleh makan makanan selain dari jenis itu semisal Nasi, sayur, Lauk dan lain-lainnya.

POSO NGEBLENG   
Poso/Puasa ngebleng, Dari ketiga jenis Puasa ala adat Tradisi Orang Jawa ini Poso Ngebleng adalah yang paling berat di dalam menjalaninya, di mana Poso/puasa dilaksanakan dengan pantang makan minum sampai batas waktu yang di niatkannya, bisa 3hari, 7 hari, 40 hari atau mungkin lebih lama lagi, Tergantung Niat dan tujuan yang ingin di capainya. Orang yang Nglakoni/Menjalani Puasa Ngebleng ini biasanya berdiam diri di Kamar atau tempat tempat khusus lainnya. Puasa semacam ini umumnya untuk Melatih dan mendapatkan Kesktian ilmu Kanuragan dismping maksud maksud lainnya.
data:post.title

TIRAKATAN MLAKU MLAKU AGAR DAPAT WAHYU DAN CAHYU


Salah satu cara Ngalap Berkah Tradisi masyarakat Jawa zaman dahulu yang telah di tulis pada Posting sebelumnya adalah kegiatan Masyarakat Jawa yang Exist sampai Akhir dekade 90an yaitu Tirakatan Pantang Tidur Semalaman dengan Jalan-jalan/Mlaku-mlaku dan menyinggahi tempat-tempat tertentu semisal Petilasan Tokoh tokoh sakti Zaman dahulu dan juga makam-makam leluhur dengan harapan mendapatkan Berkah yang dicarinya, semisal mudahnya rejeki, Lancarnya Pekerjaan, Dekatnya Jodoh, Ilmu Kanuragan/Kesaktian dan Lain-lain semacamnya. 


Bule-bule ini juga Jalan-jalan/mlaku-mlaku namun buakn demi untuk dapat Wahyu maupun Cahyu namun untuk melalap keindahan alam Tawangmangu

Hampir Setiap malam di sepanjang jalan di sekitar tempat Saya tinggal kala itu tidak pernah Sepi di malam-malam bulan Suro, terutama jalan jalan menuju Petilasan ataupun Makam-makam Orang-orang Sakti zaman dahulu. Salah Satu Tempat Yang Sangat Ramai Kala itu adalah Astana Mangadeg di Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar yang merupakan Komplek Pemakaman Raja-raja Solo Mangkunegara Pertama Sampai Ke Tiga. Setiap malam tempat itu selalu ramai didatangi terlebih pada Malam Jum’at jalan naik menuju Astana Mangadek Selalu Penuh Sesak (koyo-koyo o raiso di sasak).

Beragam maksud dan kepentingan banyak orang Tirakatan jalan-jalan/Mlaku-mlaku Pada malam Suro kala itu, ada yang memanag serius dengan tujuan dan keinginannya sehingga menjalani Tirakatan dengan melakukan ritual-ritual Khusus di situ, namun lebih banyak yang jalan jalan pada malam Suro dilakukan karena Ikut-ikutan, rame-ramean dan seru-seruan saja tujuannya.

Kala itu Baik Tua Muda, Laki-laki Perempuan, Besar Kecil terutama Malam Juam’at Tumpek Blek keluar rumah. Mlaku-mlaku/jalan-jalan dilakukan dengan tujuan dan harapan Barangkali Saja mendapat Wahyu atau barangkali nemu Cahyu. 

Nah.. . Apa itu Cahyu? Kalau wahyu sih semua orang tahu lha klau Cahyu?

Ritual tirakatan malam suro dengan Malku-mlaku/Jalan-jalan kebanyakan bukan untuk mencari wahyu, karena Susah untuk mendapat wahyu yang katanya harus dengan ritual-ritual tertentu. Kalau tujuan Mendapat Cahyu kan tidak perlu Ritual-ritual tertentu namun cukup dengan mengandalkan kepiawaian merayu.

Karena Waktu itu Pada Malam suro perempuan-perempuan juga banyak yang keluar rumah Mlaku-mlaku Sudah Pastinya Laki-laki Mlaku-mlaku Bukan sekedar berharap mendapat wahyu namun lebih berharap bisa mendapat dari Mereka Salah satu. Dengan Keluar Jalan-jalan/Mlaku-mlaku di malam Suro Waktu itu Barang kali Saja mendapat Wahyu atau Sukur Sukur Mendapat Cahyu Bocah Ayu Mbak You.

data:post.title

TRADISI TIRAKATAN NGALAP BERKAH

TIRAKATAN Tradisi zaman dahulu yang banyak dilakukan masyarakat Jawa pada saat-saat tertentu Terlebih lagi pada bulan Suro yang merupakan bulan pertama penggalan Jawa. Bulan Suro Hampir Sama dengan bulan Muharan yang merupakan bulan pertama Tahun Hijriah penggalan Islam, karena perhitungan Penanggalan Jawa maupun Perhitungan Penanggalan Islam sama-sama berdasarkan Perhitungan perputaran bulan atau sering disebut Tahun Komariah walaupun sebenarnya beda antara Suro dan muharam itu.

 Gambar tidak ada kaitan dengan isi posting asal comot dan pasang saja ini ya

Kata TIRAKATAN berasal dari kata dasar Tirakat yang sebenarnya berasal dari bahasa arab yaitu TORIQOT dan setelah beradaptasi dengan lidah/lafal jawa jadi kata Tirakat dan dapat akhiran an jadi Tirakatan yang kurang lebihnya dalam bahasa jawa diartikan Laku/Lakon/Nglakoni yang dalam bahasa Indonesia artinya Jalan/Perjalanan/Menjalani.

Jadi Tirakatan merupakan suatu laku yang di lakukan atau suatu jalan/cara yang di jalani untuk tujuan-tujuan yang ingin di capai Seseorang. Sebagai contoh dalam kepercayaan Masyarakat Jawa Malam-malam di bulan Suro terlebih lagi pada Malam Jumat adalah malam penuh Keberkahan, Oleh sebab itu Beragam Laku/jalan/cara dilakukan Masyarakat Jawa yang biasa di sebut sebagai TIRAKATAN NGALAP BERKAH.. Apa itu Tirakatan Sudah jelas Pada paparan di atas, namun apa maksud Ngalap Berkah?

NGALAP BERKAH ada dua kata dalam kalimat itu yaitu Ngalap dan Berkah.

NGALAP berasal dari kata dasar Kalap yang artinya Tenggelam, Ngalap bisa berarti menenggelamkan diri 

BERKAH sama dengan Barokah atau Pemberian Yang Besar.

Ngalap Berkah sama dengan Menenggelamkan Diri dalam Keberkahan atau Kebarokahan. Di Bulan Suro Bulan Pertama perhitungan Tahun Jawa Dipercaya Penuh dengan Keberkahan sehingga dengan Tirakatan bisa Mudah Rejeki, Dekat Jodoh, Dapat Kesaktian dan sebagainya,  Sehingga dahulu banyak sekali Beragam cara Tirakatan dilakukan Masyarakat agar Kalap atau Tenggelam alias mendapatkan Berkah Bulan Suro. 

Tirakatan Atau Jalan/Cara yang Dilakukan diantaranya adalah dengan Puasa bahkan dengan bertapa, Pantang Tidur Semalaman dan lain semacamnya.

Puasa yang Dilakukan Masyarakat Jawa zaman dahulu tidak sama dengan Puasa yang dilakukan umat Islam pada umunya di mana puasa umat Islam dilakukan dengan menahan makan minum dan Segama dari fajar sidiq sampai terbenamnya matahari, sedangkan Puasa yang dilakukan Orang Jawa zaman dahulu tidak seperti itu, Puasa orang jawa ada bermacam-macam diantaranya Poso Mutih, Poso Ngrowot, Ngebleng Berendam di Kali Pada Malam Hari dan sebagainya, Beda nama Puasa beda pula yang dilakukan dan tata caranya. Untuk selengkapnya mungkin di tulis pada posting selanjutnya.

Selain Puasa cara Tirakatan juga Dengan Pantang Tidur Semalaman yang zaman dahulu Masyarakat Jawa di malam malam bulan Suro biasanya Berjalan-jalan dengan menyinggahi tempat tempat tertentu sebagai contoh petilasan orang orang Terkenal yang biasanya sakti mandraguna dan Makam-makam leluhur. Setiap Malam sepanjang jalanan pada masa itu tidak pernah sepi Selama bulan Suro, Lebih-lebih lagi Pada Malam jum’at Jalan-jalan Tertentu bisa sangat Padat Penuh dengan orang berjalan-jalan dengan tujuan tertentu.
data:post.title

TEMPAT FAVORIT KUNGKUM MANDI SURAN

Dahulu setiap masuk bulan Suro yang mana merupakan bulan pertama penanggalan jawa alias tahun baru jawa, banyak sekali kebiasaan alias tradisi yang dilakukan masyarakat terutama masyarakat di sekitar saya yang pasti yang pernah Saya ketahui, entah kalau di tempat lain namun Saya kira kebiasaan ini ada di seluruh masyarakat jawa dahulunya. Salah satu Tradisi Pada bulan Suro adalah Mandi Berrendam di Kali/Sungai pada malam hari yang dalam bahasa jawa namanya KUNGKUM TENGAH WENGI.

TEMPAT FAVORIT KUNGKUM MANDI SURAN

Itu Kebiasaan orang-orang dahulu dan kini telah banyak di tinggalkan seiring perubahan zaman dan perkembangan keyakinan, walaupun sampai kini masih ada satu dua orang yang masih melaksanakannya. Beda orang beda Keyakinan dan pemikiran jadi tidak ada masalah karena satu sama yang lainnya yang berkembang di masyarakat sampai saat ini masih tetap saling menghormati apa keyakinan dan yang dilakukan sendiri-sendiri.

Dalam Tradisi Kebiasaan Kungkum Tangah wengi alias berrendam di tengah malam hari ini dilakukan di Kali/Sungai. Dahulu Sepanjang Sungai pada saat-saat Khusus?terutama malam-malam bulan Suro Selalu ada saja yang mendiami untuk Kungkum Tengah Wengi ini, Diantara Sepanjang aliran Sungai Ada Tempat-tempat Spesial yang jadi Favorit Orang –orang Waktu itu untuk Berendam mandi malam. Ada dua jenis Tempat yang Sangat Rami untuk Kegiatan Semcam ini kala itu, yaitu TEMPURAN dan KALI MILI NGETAN. Tempat-tempat seperti apa saja itu?

TEMPURAN
Tempat favorit berendam tengah malam untuk mandi Suran atau mandi di bulan Suro salah satunya di Tempuran yaitu tempat di mana Bersatunya dua aliran Kali/Sungai. Di Tempat tempat Seperti ini dahulu sangat banyak yang mendatangi guna melakukan kebiasaan Adus Suran  mandi berendam di malam Syura. Di sekitar daerah Penulis Bermukim. Ada beberapa tempat yang berkarakter seperti ini karena di tempat Saya Lumayan banyak Kali/Sungai namun ada lagi satu tempat lebih banyak lagi orang yang datang ke sana untuk melakukan ritual ini yaitu Kli Mangetan Iline.

KALI MILI NGETAN
Selain Tempuran ada lagi Tempat lebih di Favorit untuk mandi Berendam tengah malam adus Suran yaitu di Kali Sing Mangretan Iline. Kali atinya Sungai, Mili berarti Mengalir dan Netan artinya Ketimur. Kali Mangetan Iline Berarti Sungai yang mengalir Ketimur. Hampir Semua Sungai di tempat saya menglirnya ke barat karena Tempat saya Tinggal di Sisi Barat Kaki Gunung Lawu, Namanya Air mengalir dari Tem pat Tinggi ke tempat rendah Sedang tempat Tinggal Saya Yang berada di sisi barat Lereng Lawu Sudah pasti hampir Semua Kali/Sungai Kebarat alirannya.

Walau Hampir semua Kali aliran airnya dari timur kebarat namun masih ada sungai yang Lain dari yang lainnya, di mana alirannya Sedikit condong ke timur, walaupun Setelah mengalir Ke timur akhirnya Berbelok Ke barat Sebagaimana aliran air Sungai-sungai lainnya, dan di tempat inilah dahulu Banyak sekali yang memanfaatkan untuk tradisi Ritual Mandi Suran Ini.

Itu tadi Beberapa Tempat Yang dahulu Pada Malam-malam di bulan Suro Terlebih lagi Malam Jum'at/Jumah yang Dianggap Paling Bertuah Paling Berkah Selalu ramai Dikunjungi Masyarakat Untuk melakukan Kungkum Mandi Berendam pada Tengah Malam Hari.